Little World of Mine

  1. Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku mengenalnya.” ucap seseorang. Ah ya, itu tahun yang sama, ketika aku (mulai) mengenal dan mengagumimu. Tapi, jelas posisi kami berbeda jauh, di matamu.
    K. Aulia R.

  2. Tidak ada yang sempurna, kamu harus ingat itu. Termasuk: dia.
    K. Aulia R.

  3. Bolehkah Aku Merindukanmu?

    Bolehkah kuungkapkan bahwa aku (benar-benar) merindukanmu?

    Sesungguhnya, aku (merasa) sudah melupakanmu…

    Sebelum, seorang sahabat baikmu menyapaku dan menanyakanku mengapa tak pernah lagi menulis tentangmu; (harapan) pangeranku. Hingga kuberanikan diri bertanya bagaimana kabarmu, kesehatanmu, keadaanmu.

    Mendadak, aku benar-benar menyadari bahwa aku (sungguh) merindukanmu. (masih) belum mampu menghapusmu dari harapan doaku. Sekalipun kuusahakan sekian waktu. Pun teringat percakapan tengah malam dengan sahabat baikku, betapa sebuah video dan seorang artis ternama mengingatkan kami padamu, mengingatkanku padamu. Dan ya, dia sangat benar tentang bagaimana reaksiku kala melihat video itu seorang diri: tentang semu merah dan sipu malu yang pasti ada, tentang air mata yang pasti merebak, tentang teriak tertahan karena terpukau, dan tentang rasaku yang mengingatmu.

    Aku tahu, aku memang belum pernah mampu benar-benar melupakanmu, menyingkirkan harapan untuk menginginkanmu. Tapi, aku sudah benar-benar sadar bahwa waktu akan menjawabku. Bagaimanapun itu.

    Lagipula, aku tak lagi banyak menuliskanmu bukan karena aku tak inginkanmu. Masih, kamu menjadi inspirasi terbesar rerangkaiku. Hanya saja, aku gentar jika membayangkan kamu mungkin membaca semua keterusterangan yang berlebihan ini. Sekalipun bagiku, memang ini yang ingin kutuliskan tentangmu. Aku tak banyak menyinggung tentangmu bukan karena aku ingin melupakanmu. Masih, bagaimanapun aku menyibukkan diri, namamu terkadang terselip dalam kelebat penat untuk sejenak menghiburku. Hanya saja, aku tak ingin menggantungkan hidupku terpaku pada abstraksi yang tak mungkin diusahakan. Mimpi-mimpiku masih banyak yang terlalu tinggi, dan aku yakin, selain mimpiku tentang kamu, waktuku pasti akan lebih berharga dan berguna untuk menggapainya satu per satu dengan usahaku. 

    Usahaku tentang kamu? Tidak, tidak lagi dengan (hanya) menunggu. Aku sedang mengusahakannya dengan caraku. Namun aku tak lagi terpaku hanya dengan menginginkanmu. Pasti, ada yang terbaik untukku, meski mungkin tidak sebaik kamu. Karena itulah yang memang sepantasnya untukku.

    Selamat pagi, Kamu.

    Aku memang merindukanmu, tapi itu tak akan mengubah apa-apa :)

  4. Ada apa denganmu? Begitu sahajanya menghuni hatiku. Atau, ada apa denganku? Dengan bodohnya masih menyimpan harapan bisu padamu.
    K. Aulia R.

  5. Ternyata, aku merindukanmu lebih dari yang aku sadari. Bahkan air mata masih merebak kala mengingatmu, dalam candaan dengan teman-temanmu.
    K. Aulia R.

  6. Namamu masih jadi senyumku; harapan yang malu-malu merekah menjelma doa agar mampu menjadi nyata.
    K. Aulia R.

  7. Siapa kamu? Membuatku sejenak tertawa, membuatku sejenak hilang arah, membuatku sejenak lupa pada luka. Lalu? Kau tak acuh pada setiap inginku disapamu. Kau tak lagi usahakan hadirmu untukku, meski aku selalu usahakan pintamu atas hadirku.
    K. Aulia R.

  8. Aku membencimu karena pernah membuatku menaruh harap saat aku tahu itu bukan waktuku. Hingga akhirnya, berkeping inginku untuk sekedar mampu dekat denganmu.
    K. Aulia R.

  9. Aku rindu melihatmu sebagai oase-ku; yang sejenak membuatku berhenti untuk terhibur dari segala rutinitas yang membuat jemu.
    K. Aulia R.

  10. Kalau kata kakak tingkat : tidak apa kita lambat namun hebat, daripada cepat tapi tak bermanfaat :))
    K. Aulia R. - R. Machdy F. `dengan editan`

  11. To : Regina Kayla

    Terima kasih, untukmu yang (masih hanya) ada dalam rerangkai imaji kami. Kamu yang belum dikenal luas oleh media. Kamu yang dengan bisu menggerakkan banyak hal untukku. Kamu, yang menyadarkan aku bahwa mimpi-mimpi itu pasti akan menjadi nyata dengan beragam usaha.

    Terima kasih, karenamu aku mempercayai lagi keinginan kecilku yang dulu seakan selalu menemui buntu. Terima kasih, karenamu aku mengupayakan segala daya untuk meraih semampuku, dengan dana milikku. Terima kasih, karenamu aku bertemu dengan beragam bintang dengan cahaya-cahaya memukau yang berbeda warna. Terima kasih, atas hadirmu yang memiliki beragam arti meski kau belum memiliki nyawa.

    Terima kasih, pasti nanti akan ada haru ketika kamu benar-benar terlahirkan dan dibaca dunia :”)

  12. Mungkin dengan terlalu lama menunggu,
    orang akan lebih menghargai akan makna sebuah waktu untuk bertemu. Walaupun hanya senyuman dan kembali pergi.

    A. Dhanist P.

  13. Kekaguman itu, lebih pada karena adanya kesamaan, atau harapan akan orang lain yang diinginkan menggenapi dirinya sendiri.
    K. Aulia R.

  14. Ketika banyak orang mengatakan bahwa lelaki menangis adalah hal yang memalukan, sedangkan aku lebih memilih mengacungi jempol. Mereka manusia yang pantas dihargai untuk kejujurannya pada kelembutan hatinya. Tentunya, karena alasan yang memang sepantasnya.
    K. Aulia R.

  15. Aku mengagumimu karena mengetahui seluruh kebiasaan baikmu, atau aku mengagumimu karena melihatmu kemudian menyetujui dan memuji seluruh kebiasaanmu?
    K. Aulia R.